Memahami
ukhuwah islamiyah dengan benar
Musuh Islam tidak hanya membunuh, membantai dan
memerangi kaum muslim, tetapi mereka juga mempunyai sindikat yang rapi namun
menjijikkan. Mereka merekrut tokoh atau yang ditokohkan dari kalangan umat
Islam untuk dididik di negeri mereka. Setelah dicekoki dengan syubhat dan
pemikiran sesat, dengan rasionalisasi (dan pluralisasi) ajaran Islam dan dengan
memberi hadiah titel serta janji dikembalikkanlah sang tokoh ini ke negara
asalnya untuk menyesatkan saudara-saudaranya.
Sindikat ini bisa jadi lebih sadis daripada
pembunuhan dan pembantaian, karena mungkin saja yang mereka bunuh masih bisa
mempertahankan aqidah dan tauhidnya, tetapi penyesatan dan pemurtadan dari
dalam bisa berakibat jutaan muslimin melepaskan agamanya tanpa mereka sadari.
Para tokoh yang menyandang beraneka gelar ini
dengan leluasa mengelabuhi umat, bahkan ada yang dianggap wali dan
dipertuhankan. Semua urusan diserahkan kepada mereka, apapun kata mereka akan
menjadi pegangan awam. Salah satu istilah yang mereka kedepankan adalah “umat
Islam itu bersaudara”, dengan mencomot surat Al-Hujurat ayat 10.
Istilah yang mereka pinjam ini memang indah dan
benar karena itu Kalamullah, tetapi mereka ingin menyesatkan umat dengan
kalimat haq ini. Para tokoh penyesat umat yang ingin mendapat pujian dari orang
Yahudi, Nasrani dan antek-anteknya, bahkan ada sebagian dari mereka yang
mengatakan, “Orang Islam harus bersaudara dengan orang Yahudi dan Nasrani,
karena agama mereka juga dari Allåh, karena para nabi bersaudara, mereka pun
beribadah kepada Alloh. Lantaran itu kita harus jalin ukhuwah dengan mereka,
maafkan bila mereka marah dan membantai kaum muslimin, mereka itu ’kan saudara!
Perlu dinasihati dan diselesaikan dengan baik. Kaum muslimin tak usah
menyinggung kesalahan dan kezhaliman mereka.”
Selanjutnya yaitu dari kalangan para da’i yang
masih senang dengan bid’ah, kermusyrikan dan golongan, masing-masing berprinsip
agar bisa menggaet jama’ah dan agar tidak bubar, mereka berkomentar, “Tidak
mengapa mereka mengamalkan bid’ah, syirik dan berpartai, yang penting kita
jalin ukhuwäh islamiyah, karena mereka saudara kita. Tidak mengapa jalan yang
mereka tempuh berbeda, ibaratkan pergi ke Jakarta, biarkan lewat pantura, atau
pansela, yang penting sampai.”
Kata manis yang merusak ini disambut gegap
gempita oleh sebagian umat karena yang bicara bukan lulusan SMU. Tetapi
sebagian lagi bingung, apakah mungkin pemimpin kita menyerukan kepada
kesesatan?
Berikut ini jawabannya. :
Allah melalui FIRMAN-NYA :
Sesungguhnya orang;orang mukmin adalah bersaudara
karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Alloh
supaya kamu mendapat rahmat.
(QS.Al-Hujurat: 10).
MAKNA
UKHUWAH
Agar kita tidak salah dalam memahami makna
ukhuwah dan tidak salah dalam penerapannya maka alangkah baiknya bila kita
pelajari istilah Ini.
Kata ukhuwah menurut bahasa berasal dari “akhun”
artinya berserikat dengan yang lain karena kelahiran dari dua belah pihak, atau
salah satunya atau karena persusuan. Lalu kata ini dipakai untuk perserikatan,
persaudaraan kabilah, agama, hubungan antar manusia, kasih sayang, dan
keperluan lainnya.
(Mufradat Alfazhil Qur’an, AlAllamah Ar-Raghib
Al-Ashfahani, hal.68)
Atau dengan bahasa lain ukhuwah menurut bahasa
ialah saudara sekandung, sebapak, seibu, atau saudara persusuan. Lalu digunakan
istilah ini untuk kepentingan lain, persaudaraan antar negara, antar suku,
kabilah, desa, partai, dan lainnya.
MACAM-MACAM
UKHUWAH
Penggunaan istilah ukhuwah bukanlah hanya
diperuntukkan bagi kaum muslimin saja, tetapi dipakai pula untuk agama dan
kebutuhan lain. Adapun macam ukhuwah yang disebutkan di dalam Al-Qur’an maupun
Sunnah sebagai berikut:
1. Persaudaraan keturunan
Misalnya saudara sekandung, sebapak, seibu, dan
lainnya.
“Dan sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau
anak anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. (QS.Al-Mujadilah:22),
lihat juga surat An-Nisa ayat 11- 13,176, Yusuf ayat 58)
2. Persaudaraan sepersusuan
“Dan saudara permpuan sepersusuàn.”
(QS.An-Nisa:23)
3. Persaudaraan kaum muslimin
Seperti dalam surat Al-Hujurat ayat 10.
4. Persaudaran para utusan
Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam bersabda:
“Para nabi itu adalah saudara tiri ibu mereka
berbeda, agama mereka satu, tidaklah sesudah kami ada nabi.”
(HR.Muslim 4/1 837).
lbnu Taimiyah rohimahullah berkata,
“Agama Alloh itu satu, adapun yang berbeda adalah
syari’at dan manhaj. (FirmanNya) ‘Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami
berikan aturan dan jalan yang terang. (QS.Al-Maidah:48)’ Maka para utusan
adalah satu agama, satu keyakinan dan amalan.”
(Lihat Fatawa lbnu Taimiyah 15/1 59).
Dari keterangan lbnu Taimiyah Rohimahullah ini,
tidaklah diterima keislaman orang Yahudi dan Nasrani melainkan harus mengikuti
Islam yang dibawa oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam .
5. Persaudaraan setan
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara
saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.
(QS.Al-lsra’:27)
6. Persaudaraan orang munafik
Orang-orang yang mengatakan kepada
saudarasaudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: “Sekiranya mereka
mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh.” (QS.AIi lmran:168).
Ayat ini turun sehubungan perkataan tokoh munafik
Abdullah bin Ubay bin Salul dan kawan kawannya. (Lihat Tatsir lbnu Katsir
1/426, Tatsir Ad-Durul Mantsur 6/27)
7. Persaudaran orang kafir
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik itu, yang mengatakan kepada
saudara-saudara mereka….”
(QS.Ali lmran:1 56)
Berkata Al-Raghib Al-Asfahani,
“Mereka dikatakan bersaudara karena berserikat
dan bersahabat dalam kekufuran.”
(Mufradat Altazhil Qur’an hal.68).
8. Persaudaraan ahli Kitab
“Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang
munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahil
Kitab.”
(QS.Al-Hasyr:11)
Karena itu jangan berkawan dengan orang munafik
dan ahli kitab, bahayanya lebih besardan tidak ada manfaatnya.
9. Persaudaraan anak yatim
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim,
katakanlah: “Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu
menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu”.”
(QS.Al-Baqarah:220)
Dan keterangan diatas jelaslah bahwa penggunaan
istilah ukhuwah bukanlah hanya untuk umat Islam yang Ahli Sunnah saja.







0 komentar:
Posting Komentar